Selasa, 18 Oktober 2011

Kami Merindukanmu, Ayah


Ayah diperankan oleh Arham
Anak pertama (Robby) diperankan oleh Robby
Anak kedua(Andri) diperankan oleh Andri
Ibu Guru diperankan oleh Anna
Teman Andri diperankan oleh Diba

-----------

Waktu itu semua masih terlihat tenang, sesaat sebelum Ayah dan kedua anaknya itu berkumpul dalam ruang makan untuk sarapan.
Andri          : Ayah, Aku pergi kesekolah dulu yah!
Andri baru saja keluar dari kamarnya, ia tak sempat sarapan pagi karena hari ini, ia harus pergi ke warung internet untuk menyelesaikan tugasnya.
Arham        : mau kemana?
Andri          : print tugas, aku pergi dulu, yah!
Sambil memakai ranselnya andri berlari menuju mobil yang dibelikan oleh ayahnya, sebagai hadiah ulangtahunnya.
Arham        :ingat les bahasa perancismu nanti! Nanti malam, kau juga ada les malamkan, ingat yah jangan telat!
Andri          : baik ayah!
Robby        : Kayak robot aja les sana-les sini, semua diatur (desah robby dengan suara kecil)
Arham        : Apa kau mengatakan sesuatu?
Robby        : tidak, oh ini makanannya sudah habis, aku berangkat dulu yah ayah.
Arham        : Iya. Jangan bikin masalah lagi yah, belajar yang baik.
Robby        : Iya, ayah
Robby juga berangkat ke sekolah. Di sekolah, Robby juga tergolong orang yang cerdas namun karena faktor kemalasan. Dia sering mendapat hukuman. Berbeda dengan adiknya, Andri. Meski IQ Andri tak sebagus Robby tapi Ia sangat rajin belajar, setiap hari belajar, tak ada waktu untuk bersantai. Ia adalah Aset kebanggaan keluarganya, hampir sempurna. Cerdas, tampan, baik, kurang apalagi namun sangat banyak keganjilan pada kehidupan Andri, yah hanya ada belajar di dalamnya.
Andri:         tugas  yang kamu berikan sudah selesai, tinggal digabungkan supaya jadi makalah yang sempurna. (menyodorkan lembaran kertas tugasnya)
Diba           : oh iya, sini (mengambil tugas tersebut)
Belakangan ini muncul seorang gadis bernama Diba yang menjadi saingan Andri disekolah, ternyata semerster ini ranking Andri menurun, menurun satu peringkat di bawah Diba. Diba adalah seorang anak dari salah seorang guru di sekolah yang menyandang status favorit ini.Sekarang, Andri, Robby dan Ayahnya tengah duduk membicarakan nilai rapor milik anaknya.
Arham        : Andri kenapa ini bisa terjadi? Lihat nilai rapor kamu. Ini semua karena kamu tidak sering les, ingat nanti malam kamu les privat. Tunjukkan kalau kamu bisa merebut prestasi kembali.
Andri          : iya ayah. Ayah, tapi malam ini aku dan teman aku mau pergi nonton, jadi mungkin tidak bisa ikut les, tidak apakan? Hanya untuk kali ini saja ayah, bolehkan?
Arham        :Andri masa depan kamu lebih penting dari pada nonton film tidak jelas. Tidak usah kamu les saja.
Robby        : kenapa tidak boleh, kan hanya satu kali.
Ayah arham mengalihkan topik pembicaraannya,
Arham        :Robby, nilai rapor kamu ada peningkatan sedikit. Jangan sampai kamu tawuran lagi yah! Ayah mau pergi kekantor
Robby        : iya yah

Keesokan harinya disekolah.
Andri sedang berjalan dihalaman sekolahnya.
Diba: Andri, Andri... (diba memanggil Andri)
Andri: apa?
Diba: ini tugasnya
Andri: Aku ingin bertanya sama kamu? Apa kamu puas sudah membuatku tersiksa?
Diba: Apa? Apa maksudmu?
Andri:gara-gara kau, ayahku membuat lesku tambah intensif, gara-gara kau merebut rankingku, semua kehidupanku jadi semakin diperketat, seperti hidup dalam penjara! Apa kau tahu semua itu karena kau?
Diba: Apa maksudmu? Aku tak mengerti. Bukannya wajar ketika aku merebut itu, kita semuakan bersaing. Apa salahnya? Ini ambil. (diba memberikan tugas makalah mereka pada Andri lalu pergi dengan wajah sinis)
Andri: Eh...tunggu, tunggu (mengejar diba)
Diba: Apa lagi?
Andri: em... aku tidak sengaja mengatakan hal itu.
Diba: Lalu?
Andri: tadi pikiranku agak linglung, aku tidak mengerti kenapa aku berkata seperti itu?
Diba: Intinya apa, Dri?
Andri: Intinya, yah. Emmm...aku... minta maaf yah! Iya benar! Aku minta maaf! Hehe
Diba: yah ampun Cuma gitu doang kamu menghabiskan waktu satu menit untuk berputar-putar tentang pembicaraan ini.
Andri: Hehehe..
Diba: iya nggak apa kok!
Di ruang BK, Robby sedang berkonsultasi dengan wali kelasnya. Lagi, lagi, Robby membuat masalah, kali ini dia tidak bertengkar dengan temannya. Namun kali ini kasusnya adalah keterlambatan.
Anna          :Robby, sekali lagi kamu terlambat masuk sekolah, orang tua kamu akan ibu panggil
Robby        :Bu, silahkan memanggil ayah saya, dia pasti nggak datang. Dia sibuk dengan kerjaan dikantorlah, dirumahlah, bahkan kalau tidur ayah saya mengigau tentang kerjaan bu, dia menghitung saat tidur. Hehehe...
Anna          : Robby (suara ibu Anna mulai terlihat menggelegar)
Robby        :Kenapa, bu? nggak percaya? panggil aja nanti, pasti tidak datang. (desah robby)
Robby        : ibu, masih ada yang ingin dibicarakan lagi?
Anna          : Robby, sebenarnya ada apa dengan kamu? Semester satu kamu termasuk orang yang cerdas, namun sekarang kenapa seperti ini?
 Robby tak menjawab, sekejap matanya terlihat aneh, dia ingin mengatakan sesuatu atau tidak namun ia memutuskan untuk tidak berkata apa-apa.
Anna          : Robby, jika kamu punya masalah. Kamu bisa berkonsultasi sama ibu. Jangan samapai masalah kamu malah menjadi pengganggu konsentrasi belajarmu. Apa aada yang ingin kau katakan pada ibu?
Robby        : tidak, bu. Tidak ada.
Anna          : HP kamu mana? Sini? Ibu hanya ingin meliha sesuatu. Bukan SMS kok? Sini HP kamu?
Ibu Anna melihat catatan di HP Robby. Menurut ibu Anna, cacatan di HP sering dilakukan sebagai tempat curhat. Dan memang betul Ibu Anna mendapatkan catatan penting tentang masalah keluarga Robby. Setelah itu Ibu Anna mengembalikan HP Robby.
Anna          : kalau begitu kamu kembali ke kelas.
Jam pulang sekolah telah berbunyi, Robby dan Andri berjalan menuju ke lapangan parkir, hari ini mereka pulang bersama, karena mobil Andri sedang digunakan oleh pamannya. Tiba-tiba saja Diba melintas dihadapan mereka, ia berjalan menuju ruangan ibunya (ibu Anna).
Diba           : Ibu, aku sudah mau pulang!
Anna          : oh iya, nanti kalau pulang hati-hati yah, makan siang jangan terlambat, ada makanan udah ibu siapin dirumah.
Diba           : Ibu, hari ini aku mau pergi nonton sama temanku, boleh yah bu? Yah!yah!
Anna          : bagaimana yah? Iya nggak apa tapi jangan pulang malam yah, hati-hati dijalan.
Sekilas pembicaraan Diba dan ibunya, membuat Andri dan Robby iri, selama ini yang ayahnya pikirkan hanya bagaimana anaknya itu ranking satu, mereka mendapat kebutuhan yang cukup, ayahnya tak pernah menayakan kabar mereka. Ingatan Andri juga sempat melayang ketika ia mencoba meminta izin untuk peergi nonton bersama temannya, namun tak di izinkan. Sementara, Diba diizinkan. 
Di mobil
Robby        : Dri, apa kamu nggak jenuh belajar terus,setiap hari kehidupannya monoton?
Andri          : Agak bosan sih, kak. Tapi apa bolah buat nanti ayah kecewa lagi kalau nilaiku turun.
Robby        : oh...
Andri          : kalau kakak bagaimana?
Robby        : entahlah, aku tak tahu semakin hari semakin ada yang aneh dengan ayah. Terkadang aku berpikir kalau ayah tidak memberi perhatian yang cukup pada kita.
Andri          : apakah karena itu kakak sering berkelahi? Apakah karena kakak mau dapat perhatian ayah? Aku benarkan kak?
Robby        : mungkin...mungkin kau benar.
Robby tersenyum, sejenak senyuman itu terlihat lirih, sejenak senyuman itu terlihat senyum kesedihan.
Robby        : jika ayah adalah  ayahku, ayah kita dan memang benar ayah kita mengapa dia tak pernah menyanyakan kabar ku? Hanya ada uang dimatanya.
Namun, beberapa detik setelah itu mereka berteriak bersama, kecelakaan terjadi ketika mereka sedang berdiskusi. Mereka berdua dilarikan kerumah sakit. Di rumah sakit itu ada seorang Diba yang duduk didepan ruang kamar rawatnya di rumah sakit. Andri duduk disamping diba.
Waktu itu Arham melihat mereka berdua namun ia tak ingin mengurnya, ia lebih memilih untuk mendengar apa yang sedang diba dan Andri bicarakan.
Andri          : jika ayah memang ayahku, dan betul ayahku, mengapa ia tak pernah memperhatikanku?
Sejenak suasana hati arham yang agak cemas seoleh terguncang dengan perkataan anaknya.
Diba           :Kenapa kamu berkata seperti itu? Dia ayahmu, dia sangat peduli padamu. Hanya saja dia kurang memperlihatkan perhatiannya.
Andri          :Dulu, ayah juga melakukannya pada ibu, kerjaan. Semuanya karena kerjaa. Bahkan ibuku tak perlu takut jika ayah akan selingkuh karena setiap menit yang ada dibenaknya adalah kerja, tak ada waktu untuk yang lain.
Diba           : Andri...(mendesah)
Andri          : Andai saja waktu itu, ayah memberikan perhatian pada ibu. Mungkin ayah tahu dengan penyakit ibu, mungkin sekarang ibu tidak meninggal. Tapi semuanya...
Robby        : Andri (datang dengan suara menggelegar).
Andri kaget dengan kedatangan kakaknya.
Robby        : kau tahu sampai mana batasan mengungkapkan rahasia keluargakan? Dia bukan siapa-siapa.
Andri          : maafkan aku kak, aku tak bermaksud berkata seperti itu.
Andri dan Robby masuk kekamar, sementara Diba berniat untuk pulang kerumahnya. Di koridor rumah sakit, Diba berpapasan dengan ayah Andri dan Robby.
Diba           : Om...ada di sini (ucap diba dengan terbata-bata)
Diba kaget, takut, dan entahlah semua perasaan seolah bercampur aduk menjadi satu. Ia takut jika ayah Andri mendengarnya, dan membuatnya terluka. Namun, disisi lain Diba ingin jika ayahnya mendengar isi hati anaknya akan kelakuannya.
Arham tersenyum kaku, ia tak tahu harus bersikap seperti apa pada diba. Suasana ditempat ini sangat aneh. Sejenak mereka berdiam untuk memikirkan apa yang seharusnya mereka ucapkan. Namun suasana seperti ini berlalu dengan cepat.Tak lama kemudian, Ibu Anna datang kerumah sakit itu.
Anna          : pak Arham, Diba kamu belum pulang? (bertanya-tanya)
Arham        : Ibu, Ibu wali kelasnya Robby kan?
Anna          : iya, pak. Diba, bukannya kamu ada tugas sekolah yang harus kamu kerjakan di rumah? (anna memberi aba-aba  melalui mata pada Diba agar ia pulang kerumah)
Diba           : tugas...tidak,tugas apa? (diba masih belum mengerti akan aba-aba ibunya)
Anna:         aduh ituloh tuga matematika kamu, benarkan?( Anna memberi aba-aba lagi pada anaknya itu).
Diba           : tugas...oh iya tugas, ada dirumah, aku harus kerjakan dirumah kan. Jadi aku pulang dulu yah, ibu. Pak, saya pulang dulu yah!Assalamu’alaikum! (Kali ini diba menerti akan aba-aba ibunya).
Anna          : pak, Apa boleh kita bicara sebentar?
Mereka berdua duduk di kursi koridor rumah sakit itu.
Anna          :Pak, Apa selama ini bapak merasa ada yang aneh dengan perhatian bapak pada anak bapak? Maafkan saya pak. Sebagai gurunya, saya melihat ada hal yang aneh pada tingkah laku robby.
Arham        : saya juga tidak mengeri, bu.
Anna          : kata anak saya, Andri juga setiap hari ada les, dia tidak punya waktu untuk refreshing, Andri juga sempat bilang kalau anda itu tak pernah bertanya tentang keadaan mereka? Pak sekarang saya tanya, apa bapak tahu makanan kesukaan Andri? Pak, apakah bapak tahu robby suka jus apa?
Arham        : menggelengkan kepala. Yah Tuhan ayah seperti apa aku ini.
Anna          : mestinya bapak lebih memberi perhatian pada anak bapak.Anak bukan dokumen pak! Yang tidak butuh kasih sayang, dan semuanya diatur dengan rapi. Anak butuh kasih sayang, setidaknya tanyakan kepada mereka keadaan mereka. Tanyakan tentang teman-temannya, dan lain-lain.
Arham        : terlambat, anak saya sudah menganggap saya kalau saya ini tidak perduli pada mereka.
Anna          :tidak, pak. Bapak bisa berubah, inilah waktunya untuk berubah. Pak, butuh sebuah kesalahan untuk mengetahui kebenaran. Seorang yang salah bukan berarti seumur-umur hidup akan terus salah, dia bisa berubah. Jika ia ingin berusaha.
Arham        : iya...(namun raut wajah pak Arham masih terlihat sedih)
Anna          : pak, bapak harus melupakan masa lalu untuk melangkah ke masa depan. Yang berlalu biarkan berlalu, perbaiki kesalahan itu.
Arham        : Ibu betul. Saya, saya hanya bingung harus memulainya dari mana?
Anna          : maaf, maaf pak. Katakan maaf pada anak bapak!
Arham        : Baik, bu
Anna          : kalau bagitu saya permisi pulang dulu, saya masih ada urusan lain.
Arham masuk ke ruangan dimana kedua anaknya dirawat.
Andri          : Ayah...
Arham        : Bagaimana, kabar kalian?
Andri          : Apa? Apa yang ayah katakan? (seolah tak percaya apa yang sedang ayahnya bicarakan)
Arham        : Bagaimana keadaan kalian? Apa kalian sudah baikan? Robby, bagaimana keadaanmu?
Robby        : Buruk (jawab Robby sinis)
Entah mengapa meski hati robby yang begitu senang mendengar pertanyaan ayahnya itu ia tetap saja masih merasa kalau ayahnya masih tidak peduli padanya.
Andri          : kakak...(desah Andri)
Robby        :kenapa? Apa ayah ingin marah karena mobil yang ayah belikan untuk kami rusak?
Andri          : kakak...(desah Andri lagi)
Robby        : Apa ayah ingin marah, karena tagihan rumah sakit ini mahal?
Arham        : Tidak, bagi ayah semua itu tidak berharga. Kalian jauh lebih berharga dibanding harta, harta tak dapat menggantikan posisi kalian di hati ayah. Bagi Ayah kalianlah harta yang paling berharga.
Sejenak ruangan ini hening dengan perkataan Ayah Robby dan Andri. Hati robby, mula mencair.
Arham : Ayah, Ayah sungguh minta maaf pada....
Andri memeluk ayahnya sebelum ayahnya menyelesaikan pekerjaannya.
Arham        :... kalian.
Namun Robby, masih memeluk tangannya masih enggan memeluk ayahnya.  Ayah membuka lebar kedua lengannya, menunggu anaknya itu memeluk dirinya.Akhirnya Robby pun memluk ayahnya itu. Sepertinya, ayah yang diimpikannya selama ini telah terbangun dari tidur panjangnya.
Robby        :Kami merindukanmu ayah
Dari luar jendela ruangan tersebut, Ibu Anna dan anaknya melihat mereka, rupanya mereka belum pulang kerumahnya. Ibu Anna mengacungkan jempol pada ayahnya yang memandang ibu anna dari balik jendela itu. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar